Urbanisasi yang pesat mendorong renovasi dan ekspansi bangunan-bangunan lama di perkotaan. Praktik umum seperti menambah gedung baru di samping gedung lama, lalu menyambungkan lantainya untuk akses yang mudah, sering kali dilakukan tanpa pertimbangan desain struktur yang memadai. Penelitian terbaru dari Universitas Gadjah Mada memperingatkan bahwa penggabungan pelat lantai antara struktur lama dan baru ini dapat menimbulkan risiko besar, terutama di daerah rawan gempa seperti Indonesia.
Temuan Kunci dan Kaitannya dengan SDG 11
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke-11 menekankan pada penciptaan kota dan komunitas yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Keselamatan warga kota dari bencana, termasuk gempa bumi, adalah fondasi utama tujuan ini.
Penelitian ini, melalui simulasi 3D, menemukan bahwa menyambungkan struktur baru ke struktur lama dapat mengubah perilaku dinamik bangunan secara signifikan. Model bangunan yang disambungkan menunjukkan respons “torsional” atau puntiran yang tidak normal pada saat terkena beban gempa. Berbeda dengan bangunan normal yang bergerak translasi (bergerak lurus ke samping), bangunan yang mengalami torsi akan memuntir, menyebabkan konsentrasi tegangan yang sangat besar pada sudut-sudut tertentu.
- Risiko: Respons torsi ini dapat memperparah kerusakan, menyebabkan kegagalan kolom pada sisi yang paling fleksibel, dan bahkan berpotensi memicu keruntuhan katastropik.
- Implikasi untuk Kota: Dalam konteks kota yang padat, keruntuhan satu bangunan dapat memicu efek domino dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian ekonomi yang besar. Praktik penggabungan struktur yang tidak direncanakan dengan baik menjadi ancaman tersembunyi bagi ketahanan kota.
Rekomendasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Untuk mewujudkan SDG 11, pendekatan pembangunan harus mengutamakan keselamatan jangka panjang.
- Perhatikan Jarak Gempa (Seismic Gap): Selalu sediakan jarak yang memadai antara bangunan lama dan baru agar keduanya dapat bergerak bebas tanpa saling bertumbukan (pounding) saat gempa.
- Desain Sambungan Khusus: Jika penyambungan harus dilakukan, diperlukan desain sambungan khusus (seperti peredam kejut/damper) yang dapat menyerap energi dan mengurangi gerakan diferensial antara dua struktur.
- Penegakan Regulasi: Revisi standar bangunan seperti SNI 1726:2019 perlu mempertimbangkan secara lebih rinci desain untuk struktur hybrid (gabungan lama dan baru), sehingga para insinyur dan arsitek memiliki pedoman yang jelas.
Kesimpulan
Membangun kota yang tangguh dimulai dari memastikan setiap struktur di dalamnya aman. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa niat baik untuk memodifikasi dan memperluas bangunan harus diimbangi dengan keahlian teknis dan kepatuhan pada prinsip ketahanan gempa. Dengan menerapkan rekomendasi ini, kita tidak hanya membangun untuk masa kini, tetapi juga melindungi generasi mendatang, yang merupakan jiwa dari pembangunan berkelanjutan.