Rangkaian Kongres Gerakan Restorasi Sungai Indonesia (KGRSI) 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kepedulian dan kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Indonesia. Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sungai Indonesia, kegiatan ini terdiri atas dua agenda utama, yaitu kegiatan pra-event “Jogo Tirto” dan acara utama Kongres Gerakan Restorasi Sungai Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, penggiat lingkungan, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap kelestarian sungai.
Kegiatan “Jogo Tirto” dilaksanakan pada Kamis, 24 Juli 2026, bertempat di Taman Perwira, Prawirodirjan, Yogyakarta. Kegiatan yang menjadi seremoni pembuka KGRSI 2026 ini sebagai bentuk aksi nyata pelestarian lingkungan yang memadukan kegiatan lapangan dengan penguatan pemahaman mengenai tata ruang sungai. Pelaksanaannya melibatkan River and Ecology Club (REC), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Pemerintah Kota Yogyakarta, serta berbagai komunitas yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Salah satu agenda utama dalam “Jogo Tirto” adalah aksi bersih Sungai Code. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan sarasehan yang mengangkat tema “Optimalisasi Pelestarian Kualitas Air Sungai sebagai Strategi Penguatan Ketahanan Pangan Berkelanjutan”. Tema tersebut menunjukkan bahwa keberadaan sungai tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan kehidupan dan ketahanan pangan. Setelah kegiatan bersih sungai, BBWS Serayu Opak juga melakukan penyerahan serta pemasangan patok batas sempadan sungai secara simbolis sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola ruang dan perlindungan kawasan perairan.
Kegiatan sarasehan semakin memperkuat ruang dialog antara akademisi dan pemangku kebijakan. Diskusi dimoderatori oleh dosen Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng., serta menghadirkan Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., selaku Dekan Sekolah Vokasi UGM sekaligus pakar restorasi sungai, dan Rr. Vicky Ariyanti, S.T., M.Sc., Ph.D., Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS Serayu Opak. Kehadiran berbagai pihak tersebut memperlihatkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menjaga kualitas sungai dan mengelola kawasan sempadan secara berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan acara utama KGRSI yang dilaksanakan pada hari Senin, 27 Juli 2026 secara dalam jaringan (daring). Kongres diikuti oleh berbagai elemen dari sejumlah daerah di Indonesia, mulai dari komunitas sungai, penggiat lingkungan, akademisi, hingga instansi pemerintah yang memiliki kepedulian terhadap sumber daya air dan lingkungan sungai. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai berbagai persoalan sungai sekaligus memaparkan kegiatan restorasi yang telah dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan KGRSI diawali dengan sambutan Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., dan dilanjutkan dengan keynote speech oleh Wali Kota Yogyakarta. Sesi utama diisi oleh narasumber dari berbagai komunitas sungai yang tersebar di Indonesia. Mereka memaparkan kondisi, permasalahan, serta upaya restorasi sungai di wilayah masing-masing. Diskusi berlangsung dalam dua sesi yang masing-masing dimoderatori oleh Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng. dan Dr.sc.tech. Ir. Adhy Kurniawan, S.T., IPU.
Pada penghujung kongres, seluruh peserta mengikuti pembacaan Deklarasi Gerakan Restorasi Sungai. Deklarasi tersebut menjadi komitmen bersama untuk terus proaktif dalam kegiatan restorasi dan mewujudkan sungai yang bersih, sehat, dan produktif serta menjaga kelestarian sumber daya air Indonesia. Kolaborasi yang terbangun melalui Jogo Tirto dan KGRSI memperlihatkan bahwa upaya restorasi sungai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara konsisten, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, hingga generasi muda.
Melalui Jogo Tirto dan KGRSI 2026, semangat restorasi sungai tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih, tetapi berkembang menjadi gerakan kolaboratif yang menggabungkan aksi lingkungan, penguatan tata kelola, edukasi, serta pertukaran pengetahuan lintas daerah. Keterlibatan mahasiswa melalui River and Ecology Club juga menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menggerakkan kepedulian terhadap lingkungan. Ke depan, kolaborasi yang telah terbangun diharapkan terus berkembang menjadi gerakan bersama untuk menjaga sungai agar tetap bersih, sehat, produktif, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat serta lingkungan.