YOGYAKARTA — Meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur di Indonesia turut mendorong kebutuhan material konstruksi yang berkualitas, ekonomis, dan ramah lingkungan. Di sisi lain, industri bahan bangunan masih menghadapi tantangan pengelolaan limbah produksi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Menjawab persoalan tersebut, Dian Sestining Ayu, S.T., M.T., dosen Departemen Teknik Sipil, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), mengembangkan penelitian mengenai pemanfaatan limbah bata merah sebagai bahan substitusi parsial semen dalam pembuatan mortar. Penelitian bertajuk “Optimasi Sifat Fisik dan Mekanik Mortar Berbahan Dasar Limbah Bata Merah” ini merupakan bagian dari skema Penelitian Dana Masyarakat Kompetitif Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026.
Kajian tersebut diarahkan untuk mengevaluasi potensi penggunaan limbah bata merah, abu terbang (fly ash), dan serat ijuk dalam menghasilkan campuran mortar dengan karakteristik fisik dan mekanik yang memenuhi kebutuhan konstruksi. Bata merah merupakan salah satu material yang banyak digunakan dalam pembangunan rumah dan berbagai infrastruktur. Namun, proses produksinya tidak selalu menghasilkan bata dengan kualitas yang memenuhi persyaratan penggunaan. Salah satu contoh ditemukan pada industri bata merah di Desa Kemloko, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Berdasarkan informasi dalam proposal penelitian, satu kali proses pembakaran sebanyak 25.000 bata merah dapat menghasilkan sekitar 300 bata yang tidak layak digunakan.
Limbah tersebut umumnya hanya dibuang atau dimanfaatkan sebagai material timbunan. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang untuk mengembangkan pendekatan pengelolaan limbah yang memberikan nilai tambah bagi industri konstruksi. Melalui penelitian ini, Dian berupaya mengolah limbah bata merah menjadi serbuk halus yang disebut semen merah. Material tersebut kemudian digunakan sebagai pengganti sebagian semen dalam campuran mortar. Mortar sendiri merupakan material yang tersusun dari bahan pengikat, agregat halus, dan air. Material ini memiliki peran penting dalam pekerjaan pasangan bata, dinding, dan berbagai aplikasi konstruksi lainnya. Pemanfaatan limbah bata merah diharapkan dapat membuka alternatif penggunaan bahan konstruksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap semen konvensional.
Penelitian ini didukung sejumlah kajian terdahulu mengenai penggunaan material alternatif dalam campuran mortar. Kajian Thi dan rekan-rekannya (2023) menunjukkan bahwa limbah bata merah memiliki kandungan silika (SiO₂) dan alumina (Al₂O₃) yang berpotensi mendukung reaksi pembentukan senyawa pengikat dalam material berbasis semen. Kandungan tersebut menjadi salah satu dasar pertimbangan penggunaan serbuk bata merah sebagai substitusi parsial semen. Meskipun demikian, pengaruhnya terhadap karakteristik mortar perlu diuji karena perubahan komposisi campuran dapat memengaruhi kekuatan dan sifat fisik material.
Selain limbah bata merah, penelitian juga mempertimbangkan penggunaan abu terbang atau fly ash. Material ini merupakan hasil samping pembakaran batu bara yang memiliki karakteristik pozolanik dan berpotensi berkontribusi terhadap sifat pengikatan pada campuran mortar. Bahan tambahan lainnya adalah serat ijuk yang berasal dari pohon aren. Serat alami tersebut memiliki karakteristik berserat dan relatif kuat terhadap tarikan, sehingga menarik untuk dikaji sebagai bahan tambahan dalam mortar. Dengan mengombinasikan material-material tersebut, penelitian berupaya memahami bagaimana variasi komposisi memengaruhi performa mortar, khususnya dari aspek kekuatan tekan dan lentur.