YOGYAKARTA — Keterlambatan proyek konstruksi banyak dilaporkan di Indonesia, antara lain akibat perencanaan jadwal yang kurang tepat. Menjawab persoalan tersebut, Ahmad Azka Lubaba, S.T., M.T., dosen Departemen Teknik Sipil, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), meneliti karakteristik aktivitas hampir kritis (near-critical activity) dan pola dampak kumulatifnya terhadap durasi proyek konstruksi. Penelitian dalam skema Afirmasi Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026 ini berada pada klaster Saintek, sejalan dengan flagship Ketangguhan Sosial Budaya Masyarakat. Penelitian dilaksanakan bersama tim dosen dan mahasiswa.
Keterlambatan dapat meningkatkan biaya, memicu risiko tuntutan hukum, hingga membuat target fungsional proyek tidak tercapai. Studi di sejumlah daerah mencatat bahwa proyek fisik yang terlambat tidak sedikit, bahkan sebagian berujung pemutusan kontrak. Studi lain menempatkan perencanaan jadwal yang tidak tepat sebagai salah satu faktor penyebab keterlambatan yang paling menonjol.
Praktik penjadwalan banyak memakai Critical Path Method (CPM) yang mengarahkan perhatian pada jalur kritis, yakni rangkaian aktivitas ber-float nol yang menentukan durasi minimum proyek. Pendekatan ini bertumpu pada durasi aktivitas yang diasumsikan tetap, padahal lingkungan proyek diwarnai variabilitas. CPM pun dikritik karena sifatnya deterministik dan statis, dan estimasi jadwalnya dapat dipengaruhi bias optimisme sehingga meremehkan durasi aktual.
Fokus eksklusif pada jalur kritis membuat aktivitas hampir kritis, yaitu aktivitas tidak kritis ber-float kecil, kurang diperhatikan. Aktivitas ini dapat menjadi kritis bila gangguan yang dialaminya melampaui float. Simulasi dalam literatur menunjukkan jalur hampir kritis dapat menjadi kritis, bergantung pada besarnya variabilitas aktivitas di dalamnya. Dari sudut pandang berbeda, Critical Duration Index diusulkan untuk memperkirakan peluang dan besaran keterlambatan dari informasi jadwal deterministik yang sudah tersedia pada tahap perencanaan. Dokumentasi empiris tentang karakteristik aktivitas hampir kritis pada proyek konstruksi nyata di Indonesia, mencakup distribusi float, kerentanan terhadap variasi durasi, dan pola dampak kumulatifnya, masih terbatas.
Total Float (TF) adalah lamanya suatu aktivitas dapat tertunda tanpa memundurkan tanggal penyelesaian proyek. TF dimiliki bersama oleh rangkaian aktivitas dalam satu jalur, sehingga float suatu aktivitas dapat habis terpakai oleh keterlambatan aktivitas pendahulunya. Berbeda dengan itu, Free Float adalah lamanya aktivitas dapat tertunda tanpa memundurkan saat mulai paling awal aktivitas penerusnya, dan penelitian ini memakai TF. Tidak ada batas baku untuk menyebut float itu kecil, sehingga batas aktivitas hampir kritis perlu ditetapkan secara kontekstual. Selain float absolut, penelitian ini memakai rasio TF terhadap durasi aktivitas sebagai ukuran tambahan, yang disebut ambang variasi durasi. Dari perspektif Lean Construction, yang menekankan pengurangan variabilitas dan pengelolaan penyangga (buffer), float pada aktivitas hampir kritis dipandang sebagai penyangga waktu yang menyerap variabilitas sebelum gangguan memengaruhi jalur kritis. Perspektif ini dipakai sebagai lensa untuk menafsirkan temuan, bukan sebagai sistem kendali yang diterapkan di lapangan.