Bagian pertama telah memaparkan bahwa jalan beton pada jaringan jalan nasional dapat mengalami kerusakan dini sebelum masa layan idealnya tercapai, seperti pada ruas Bojonegoro–Padangan, dan bahwa kajian literatur menilai analisis variabel secara terpisah tidak cukup untuk menggambarkan pola kerusakan. Dr. Eng. Ir. Iman Haryanto, S.T., M.T. beserta tim menjawab keterbatasan tersebut dengan merumuskan hipotesis dan menerapkan pendekatan statistik terpadu. Bagian kedua ini menguraikan hipotesis, metodologi, serta kontribusi penelitian.
Berangkat dari keterbatasan evaluasi parsial tersebut, tim peneliti merumuskan pertanyaan kunci mengenai bagaimana indikator kinerja fungsional dan dukungan struktur tanah dasar saling berhubungan di lapangan. Peneliti mengajukan hipotesis bahwa parameter kelayakan fungsional jalan dan parameter kekuatan tanah dasar sebenarnya membentuk dimensi karakteristik yang berbeda dan tidak selalu memiliki korelasi linier yang kuat. Hipotesis ini mengimplikasikan bahwa penggunaan satu parameter tunggal daya dukung tanah dalam pedoman desain nasional belum tentu mencerminkan kinerja layanan jalan yang sebenarnya di lapangan. Melalui studi ini, Dr. Iman Haryanto dan tim bertujuan mengidentifikasi dimensi utama yang mendasari variasi kondisi jalan beton serta menyediakan bukti empiris untuk mengevaluasi parameter dalam MDPJ 2024.
Untuk menguji hipotesis tersebut, penelitian ini menerapkan metodologi analisis statistik multivariat dengan memanfaatkan teknik Principal Component Analysis (PCA). Peneliti mengumpulkan data sekunder yang bersumber dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–DIY Direktorat Jenderal Bina Marga. Dataset tersebut mencakup 43 titik pengamatan di sepanjang ruas Bojonegoro–Padangan yang mengukur tiga variabel utama, yaitu International Roughness Index (IRI) untuk kekasaran permukaan, Present Serviceability Index (PSI) untuk tingkat kelayakan layanan, dan Modulus of Subgrade Reaction (MR) untuk daya dukung tanah dasar. Melalui metode PCA, data dari variabel-variabel yang saling berkorelasi diriset dan direduksi dimensinya menjadi Komponen Utama (Principal Component) guna menangkap pola dominan pemicu kerusakan jalan tanpa kehilangan informasi penting dari data lapangan.
Pemilihan ketiga variabel tersebut selaras dengan hipotesis penelitian. IRI dan PSI mewakili kinerja fungsional jalan, sedangkan MR mewakili daya dukung tanah dasar. Dengan demikian, analisis PCA terhadap 43 titik pengamatan dapat memperlihatkan apakah kedua kelompok parameter tersebut membentuk dimensi karakteristik yang berbeda dan tidak selalu berkorelasi linier secara kuat. Hasilnya diharapkan menjadi bukti empiris bagi evaluasi parameter dalam MDPJ 2024.
Langkah ilmiah ini memiliki nilai strategis yang sangat erat kaitannya dengan upaya mewujudkan infrastruktur transportasi yang andal, inklusif, dan berdaya tahan tinggi. Secara implisit, kajian keandalan jalan ini mendukung pencapaian visi pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam menghadirkan inovasi teknologi infrastruktur jalan yang tangguh serta mendukung efisiensi pemanfaatan sumber daya dan anggaran negara. Dengan memahami dimensi penyebab kerusakan jalan secara presisi, perencanaan jalan nasional di masa depan dapat dirancang lebih efisien, meminimalkan pemborosan material akibat perbaikan berulang, serta menjamin keselamatan dan kenyamanan konektivitas antarwilayah bagi masyarakat luas.
Pada akhirnya, riset yang dipelopori oleh Dr. Eng. Ir. Iman Haryanto, S.T., M.T. ini menjadi momentum krusial dalam mentransformasi paradigma perencanaan jalan di Indonesia dari sekadar pendekatan empiris menuju evaluasi berbasis data lapangan yang komprehensif. Melalui pemetaan metodologis yang matang ini, harapan besar kini tertuju pada penyempurnaan standar desain perkerasan nasional agar setiap kilometer jalan beton yang dibangun mampu bertahan kokoh melayani mobilitas bangsa hingga puluhan tahun mendatang.