Menurut SNI 03-6825-2002, mortar adalah campuran agregat halus, bahan perekat seperti tanah liat, kapur, atau semen portland, dan air. Mortar harus cukup kuat karena dinding yang dipasang menahan beban tekan, angin, dan gaya lateral. ASTM C 270 mengatur tipe mortar berdasarkan kuat tekan serta batas konsistensi atau nilai sebar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa admixture dapat meningkatkan kekuatan mortar, sedangkan limbah bata merah sebagai substitusi parsial agregat berpotensi mengurangi limbah konstruksi sambil mempertahankan sifat mekanis. Namun, sebagian besar kajian membahas kedua material itu secara terpisah. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan menggabungkan admixture tipe F dan bubuk bata merah, dalam peta jalan pemanfaatan limbah bangunan untuk mortar. Penelitian ini melanjutkan kajian Edi di bidang mortar dan beton, antara lain pemanfaatan limbah beton dan serat roving pada mortar serta kuat lentur mortar berserat dengan limbah bata merah sebagai substitusi semen.
Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pengaruh penggantian sebagian semen dengan bubuk limbah bata merah terhadap performa mortar dengan bahan tambah tipe F, dan berapa persentase penggantian yang optimum. Tujuannya adalah mengetahui pengaruh penggantian tersebut terhadap kemudahan pengerjaan, kuat tekan, berat jenis, dan daya serap air mortar, serta menentukan persentase optimum yang dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan performa mekanis mortar. Penelitian ini tidak mengajukan hipotesis formal. Sebagai dugaan awal, sifat pozolan bubuk bata dan pengaruh admixture tipe F terhadap workability membuat penggantian pada kadar tertentu diperkirakan mampu mempertahankan atau meningkatkan performa mortar. Dugaan ini masih perlu dibuktikan melalui pengujian laboratorium.
Metode penelitian adalah kuantitatif eksperimen di Laboratorium Bahan Bangunan Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM. Bahan yang digunakan meliputi semen portland, pasir Progo, admixture tipe F, dan bata merah produksi Temanggung dari sisa penelitian terdahulu di laboratorium. Pasir terlebih dahulu diperiksa kandungan lumpur, zat organik, berat satuan, modulus halus butir, SSD, dan berat jenisnya. Campuran mortar memakai perbandingan semen dan pasir tertentu, fas rendah, dan admixture dengan dosis tetap. Bubuk bata menggantikan sebagian semen pada beberapa tingkat persentase, mulai dari campuran kontrol tanpa penggantian. Kemudahan pengerjaan diuji dengan meja sebar, dan bila nilai sebar di luar batas yang disyaratkan, fas disesuaikan. Benda uji berupa kubus mortar dengan beberapa sampel pada setiap variasi dan umur uji. Setelah dicetak dan dirawat dengan perendaman, benda uji diuji kuat tekan, berat jenis, dan daya serap airnya.
Penelitian ini berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui inovasi material konstruksi. Penelitian ini juga relevan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena memanfaatkan limbah bata sebagai bagian dari pengelolaan limbah industri dan konstruksi. Melalui penelitian ini, Edi Kurniadi bersama tim berupaya memperkuat landasan ilmiah pemanfaatan limbah bata merah sebagai pengganti sebagian semen pada mortar. Kajian tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju material konstruksi yang lebih hemat sumber daya dan berkelanjutan, sekaligus menegaskan kontribusi Departemen Teknik Sipil, Sekolah Vokasi UGM, dalam menghadirkan solusi rekayasa yang ramah lingkungan.