PONOROGO – Keamanan jalur logistik dan konektivitas antar wilayah menjadi sorotan utama dalam penanganan bencana geologi di Jawa Timur. Pada Kamis (23/4/2026), Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur melakukan survei lapangan di 9 titik longsor yang mengancam jalur utama Ponorogo-Pacitan.
Kunjungan ini dipimpin oleh jajaran legislator, yakni Diana AV Sasa, Miseri Effendi, dan Atika Banowati. Menariknya, survei teknis ini juga melibatkan mahasiswa magang dari Departemen Teknik Sipil (DTS), yang terjun langsung melihat kompleksitas stabilitas tanah di lapangan sebagai bagian dari implementasi ilmu ketekniksipilan. .
Jalur ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana longsor. Berdasarkan pengamatan di lokasi, wilayah tersebut merupakan bagian dari struktur gunung purba dengan proses pelapukan yang belum sempurna. Kondisi tanah yang sangat labil ini berada di atas sesar aktif.
“Akademisi terus kita libatkan, baik dari ITS, UB, dan UGM yang sangat intens dari awal untuk melakukan kajian. Area ini memang termasuk sesar bumi,” jelas Jarwoto, Kepala UPT PJJ Madiun Dinas PU Bina Marga Jatim.
Beberapa faktor teknis penyebab longsor yang diidentifikasi meliputi faktor geometri lereng dimana kemiringan lereng sangat curam. Selain itu, faktor vegetasi lereng juga memberikan pengaruh pada potensi longsor di daerah tersebut. Kurangnya akar pengikat yang kuat di kawasan hutan lindung tersebut menjadikan tanah lereng tidak stabil dan mudah mengalami kelongsoran. Tidak hanya itu, faktor struktural juga berpengaruh, kurangnya kapasitas dinding penahan tanah dalam menahan beban juga mempengaruhi kejadian tersebut.
Pihak Dinas PU tengah melakukan tindakan preventif dengan fokus pada manajemen air. Dalam kacamata teknik sipil, air adalah pemicu utama longsor karena meningkatkan tekanan air pori dan mengurangi kuat geser tanah.
“Tindakan kita adalah mengurangi beban tanahnya karena ada tampungan air. Air sangat berpotensi untuk mendorong tanah ke bawah,” tambah Jarwoto.
Diana AV Sasa menekankan bahwa kegagalan infrastruktur di jalur ini akan berdampak sistemik pada kesejahteraan masyarakat. Jalur ini merupakan urat nadi bagi distribusi logistik antara dua kabupaten. “Apalagi jalur ini adalah jalur utama konektivitas antar wilayah Pacitan-Ponorogo. Kalau jalur ini putus, ya sudah kita agak kesulitan untuk arus transportasi distribusi. Ekonominya juga akan terganggu,” tegas Sasa.
Keterlibatan mahasiswa Departemen Teknik Sipil dalam survei ini menjadi langkah penting dalam mencetak calon insinyur yang tanggap terhadap mitigasi bencana. Sinergi antara kebijakan politik DPRD, eksekusi teknis Dinas PU, dan kajian akademis diharapkan mampu melahirkan solusi infrastruktur yang tangguh (resilient) di tengah tantangan geologi yang dinamis, demi menjamin keamanan mobilitas masyarakat di masa depan.