Yogyakarta — Upaya menjaga kualitas lingkungan terus digencarkan oleh mahasiswa Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada melalui kegiatan Biotilik Sungai Gajah Wong yang digelar pada Minggu, 3 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Badan Semi Otonom (BSO) River and Ecology Club (REC) dengan Building Information Modeling (BIM), yang menggabungkan pendekatan ilmiah dengan visualisasi teknologi untuk memantau kondisi ekosistem sungai secara komprehensif.
Berlokasi di kawasan Giwangan, Yogyakarta, tepatnya di aliran Sungai Gajah Wong, kegiatan ini diikuti oleh anggota kedua organisasi mahasiswa tersebut. Biotilik sendiri merupakan metode pemantauan kualitas air yang memanfaatkan biota sungai sebagai indikator alami kondisi lingkungan. Dengan mengamati jenis dan jumlah organisme seperti larva serangga dan mikrofauna lainnya, mahasiswa dapat mengidentifikasi tingkat pencemaran air secara sederhana namun akurat.
Kegiatan diawali dengan sesi pengarahan mengenai metode biotilik, termasuk teknik pengambilan sampel dan identifikasi biota. Peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan observasi langsung di lapangan. Mereka turun ke aliran sungai untuk mengumpulkan sampel, mengamati kondisi air, serta mencatat jenis biota yang ditemukan. Aktivitas ini memberikan pengalaman belajar yang aplikatif sekaligus melatih ketelitian dalam pengamatan lingkungan.

Dalam prosesnya, peserta tidak hanya fokus pada biota air, tetapi juga melakukan pengamatan terhadap kondisi fisik sungai. Beberapa aspek yang diamati meliputi warna air, kecepatan arus, kebersihan bantaran, serta aktivitas masyarakat di sekitar sungai yang berpotensi mempengaruhi kualitas air. Pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi ekosistem Sungai Gajah Wong dari berbagai aspek.
Data yang diperoleh di lapangan kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis bioindikator. Keberadaan organisme yang sensitif terhadap pencemaran menjadi penanda bahwa kualitas air masih baik, sementara dominasi biota yang toleran terhadap polusi menunjukkan kondisi sebaliknya. Melalui analisis sederhana ini, mahasiswa mampu menentukan apakah kondisi sungai tergolong baik, tercemar ringan, atau bahkan tercemar berat.
Dalam pembagian peran yang terstruktur, BSO REC bertanggung jawab pada pengolahan dan analisis data biota. Hasil analisis ini disusun menjadi laporan ilmiah dan materi edukasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Sementara itu, BSO BIM berperan dalam mengembangkan model visual tiga dimensi (3D) Sungai Gajah Wong. Model ini dirancang untuk merepresentasikan kondisi sungai secara lebih nyata dan mudah dipahami oleh masyarakat umum.
Penggunaan teknologi visualisasi 3D menjadi nilai tambah dalam kegiatan ini. Melalui pendekatan ini, informasi ilmiah yang kompleks dapat disampaikan secara lebih komunikatif dan interaktif. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kondisi sungai serta mendorong partisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, pada 24 Mei 2026 mendatang akan dilakukan kunjungan kembali ke lokasi yang sama. Agenda utama kegiatan tersebut meliputi pemaparan hasil analisis kondisi sungai kepada masyarakat setempat, penyajian model visual 3D, serta pelaksanaan aksi bersih-bersih sungai bersama warga. Selain itu, hasil modelling juga akan dipajang sebagai media edukasi publik.
Kegiatan lanjutan ini menjadi bukti bahwa program biotilik tidak berhenti pada tahap observasi semata, tetapi berlanjut pada aksi nyata yang melibatkan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat akademik bagi mahasiswa, tetapi juga berdampak sosial bagi lingkungan sekitar.