Pembangunan infrastruktur tidak dapat dipisahkan dari kondisi tanah sebagai media pendukung jalan, bangunan, tanggul, kawasan industri, maupun berbagai fasilitas publik lainnya. Pada beberapa lokasi, kondisi tanah alami belum memiliki karakteristik yang memadai untuk mendukung konstruksi sehingga diperlukan upaya perbaikan atau stabilisasi tanah. Selama ini, semen dan kapur menjadi material yang banyak digunakan karena relatif mudah diaplikasikan serta telah dikenal luas dalam praktik rekayasa geoteknik. Namun, kebutuhan untuk mengurangi emisi karbon mendorong dunia konstruksi untuk mulai mempertimbangkan material dan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Berangkat dari tantangan tersebut, sebuah penelitian dilakukan untuk mengkaji perkembangan stabilisasi tanah rendah karbon dan berbasis hayati. Penelitian ini merupakan systematic review yang mempelajari berbagai pendekatan alternatif dalam perbaikan tanah, khususnya penggunaan biopolimer, bio-cementation, serta material pengikat yang berasal dari limbah industri maupun pertanian. Kajian dilakukan terhadap publikasi ilmiah periode 2020–2026 dengan menggunakan pendekatan PRISMA agar proses penelusuran, pemilihan, dan evaluasi literatur dapat dilakukan secara sistematis dan transparan. Berbeda dari kajian yang hanya membandingkan kekuatan tanah setelah diberi bahan stabilisasi, penelitian ini mencoba melihat proses yang terjadi secara lebih menyeluruh. Tanah dipandang sebagai suatu sistem yang berinteraksi dengan material stabilisasi melalui proses fisik dan kimia. Karakteristik mineral tanah, ukuran butiran, kondisi air pori, komposisi material stabilisasi, proses pencampuran, hingga kondisi curing menjadi bagian penting yang perlu dipahami. Pendekatan ini diperlukan agar pengembangan material rendah karbon tidak sekadar mengganti semen dengan material lain, tetapi juga mempertimbangkan kesesuaian antara jenis tanah dan mekanisme kerja material tersebut.

Penelitian ini berkontribusi kuat terhadap berbagai aspek krusial dalam agenda pembangunan global yang berkelanjutan. Pada tataran inovasi industri dan infrastruktur, studi ini mendorong pengembangan pengetahuan mengenai teknologi perbaikan tanah yang lebih maju. Fondasi infrastruktur masa depan dituntut untuk tidak lagi sekadar mengejar performa teknis, melainkan juga harus memastikan efisiensi pemanfaatan sumber daya dan menekan dampak negatif terhadap lingkungan. Dalam konteks perwujudan kota dan komunitas permukiman yang tangguh, penelitian ini menawarkan pendekatan berkelanjutan untuk membangun kawasan perkotaan yang aman dan berumur panjang. Penggunaan material stabilisasi tanah yang inovatif diposisikan sebagai strategi kunci dalam mendukung pembangunan fasilitas publik, seperti jalan, kawasan hunian, dan tanggul melalui proses konstruksi yang minim polusi dan emisi.
Lebih dari itu, studi ini mengambil langkah nyata dalam aksi penanganan krisis iklim. Sektor konstruksi didorong untuk ikut menekan laju emisi gas rumah kaca melalui kebijakan pemilihan material yang lebih ketat. Oleh karena itu, penelitian ini menyoroti pentingnya evaluasi teknologi perbaikan tanah yang berbasis pada perhitungan jejak karbon dan dampak siklus hidup material secara menyeluruh tidak hanya melihat asal materialnya, tetapi merinci sumber bahan baku, proses produksi, transportasi, dosis aplikasi, masa pakai, hingga kebutuhan pemeliharaannya. Melalui tinjauan ini, disiplin geoteknik ditegaskan sebagai pilar penting dalam transisi industri menuju konstruksi rendah karbon. Pada akhirnya, upaya perbaikan tanah bukan semata-mata soal kelayakan pakai lahan, melainkan wujud tanggung jawab dalam menciptakan teknologi infrastruktur yang selaras dengan kelestarian alam dan menjamin keberlangsungan hidup generasi mendatang.